bermain lumpur memang terasa mengasikkan
lupa waktu
tak terasa senja mulai tiba
tak ingin mandi
karena harus menimba
dan ketika hendak beranjak dari kubangan
lumpur menjadi hidup
tangan-tangannya memegang erat agar tak terlepas
cukup lama tertahan dalam kubangan
keyakinan untuk bangkit mulai rapuh
adakah yang dapat menolong...
menarik keluar dari cengkraman lumpur kotor
membawa ke pemandian
menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel
adakah...?!
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 17 Desember 2011
Minggu, 27 Februari 2011
Pungguk
Aku terjaga selalu diheningnya malam
Terpaku oleh kesunyian dan kerinduan
Dan ini adalah malam yang kesekian
Dari malam-malam yang ku lalui
Akulah si pungguk
Terbang menerobos pekat malam
Mencari ranting yang kokoh
Menghabiskan malamku bertengger disana
Bersenandung
Menyanyikan lagu-lagu rindu
Lagu ini begitu sederhana
Tapi aku sangat ingin melantunkanya
Sebagai pengobat keresahah hati
Pembendung rindu yang begitu membuncah
Dengan sabar aku menunggu
Pada kasetiaan malam yang ku lalui
Bersama lagu yang aku nyanyikan
Dengan ranting yang retak dan hampir patah
Menunggumu, wahai rambulan malam
Dan pada malam yang berbeda
Saat dimana purnama menjelang
Kaupun hadir berselimut kabut hitam
Memberikan noda pada kesetiaan
Memberikan kehancuran pada kuatnya kepercayaan
Hingga aku mengeluh pada kebodahan
Kadang semilir angin mencoba berbisik
Ia berkata “Untuk apa kau menunggu rembulan? Ia tak akan datang untukmu. Coba lihatlah esok hari, ada mentari yang akan datang. Ia membawa kehangatan. Sambutlah ia dengan hatimu yang dingin dan hampir beku ini.”
Tapi aku mengacuhkannya
Karena aku adalah seekor pungguk
Yang ditakdirkan hanya untuk merindukan sang rembulan
Sunday, February 27, 2011 02:40am
Terpaku oleh kesunyian dan kerinduan
Dan ini adalah malam yang kesekian
Dari malam-malam yang ku lalui
Akulah si pungguk
Terbang menerobos pekat malam
Mencari ranting yang kokoh
Menghabiskan malamku bertengger disana
Bersenandung
Menyanyikan lagu-lagu rindu
Lagu ini begitu sederhana
Tapi aku sangat ingin melantunkanya
Sebagai pengobat keresahah hati
Pembendung rindu yang begitu membuncah
Dengan sabar aku menunggu
Pada kasetiaan malam yang ku lalui
Bersama lagu yang aku nyanyikan
Dengan ranting yang retak dan hampir patah
Menunggumu, wahai rambulan malam
Dan pada malam yang berbeda
Saat dimana purnama menjelang
Kaupun hadir berselimut kabut hitam
Memberikan noda pada kesetiaan
Memberikan kehancuran pada kuatnya kepercayaan
Hingga aku mengeluh pada kebodahan
Kadang semilir angin mencoba berbisik
Ia berkata “Untuk apa kau menunggu rembulan? Ia tak akan datang untukmu. Coba lihatlah esok hari, ada mentari yang akan datang. Ia membawa kehangatan. Sambutlah ia dengan hatimu yang dingin dan hampir beku ini.”
Tapi aku mengacuhkannya
Karena aku adalah seekor pungguk
Yang ditakdirkan hanya untuk merindukan sang rembulan
Sunday, February 27, 2011 02:40am
Label:
puisi,
semayam rindu
Kamis, 23 Desember 2010
| Dia |
Dia…
Siapa dia?
Wajah yang aku kenali
Tapi siapa dia?
Aku tak tahu siapa dia
Dia yang terlalu sulit untuk dibayangkan
Walau hanya sesaat
Walau hanya sekedar melepas dahaga
Walau hanya sekejap mata
Terlalu sulitkah?
Dia…
Aku mengenalinya
Dia yang dulu
Tapi itu dulu
Sekarang…
Siapa dia sekarang?
Ya…
Mungkin sekarang aku tak lagi pantas untuk mengenalinya
Hingga takkan pernah bisa mengenalnya
Dia begitu berbeda
Membuatku merasa tak pantas walau hanya sekedar mengenalnya
Tapi aku hanya ingin mengenalinya
Hanya ingin tahu siapa dia
Mengapa sekarang ia begitu berbeda
Hanya itu…
Label:
puisi,
semayam rindu
Langganan:
Postingan (Atom)