i2n

Minggu, 27 Februari 2011

Pungguk

Aku terjaga selalu diheningnya malam
Terpaku oleh kesunyian dan kerinduan
Dan ini adalah malam yang kesekian
Dari malam-malam yang ku lalui

Akulah si pungguk
Terbang menerobos pekat malam
Mencari ranting yang kokoh
Menghabiskan malamku bertengger disana
Bersenandung
Menyanyikan lagu-lagu rindu

Lagu ini begitu sederhana
Tapi aku sangat ingin melantunkanya
Sebagai pengobat keresahah hati
Pembendung rindu yang begitu membuncah

Dengan sabar aku menunggu
Pada kasetiaan malam yang ku lalui
Bersama lagu yang aku nyanyikan
Dengan ranting yang retak dan hampir patah
Menunggumu, wahai rambulan malam

Dan pada malam yang berbeda
Saat dimana purnama menjelang
Kaupun hadir berselimut kabut hitam
Memberikan noda pada kesetiaan
Memberikan kehancuran pada kuatnya kepercayaan
Hingga aku mengeluh pada kebodahan

Kadang semilir angin mencoba berbisik
Ia berkata “Untuk apa kau menunggu rembulan? Ia tak akan datang untukmu. Coba lihatlah esok hari, ada mentari yang akan datang. Ia membawa kehangatan. Sambutlah ia dengan hatimu yang dingin dan hampir beku ini.”
Tapi aku mengacuhkannya
Karena aku adalah seekor pungguk
Yang ditakdirkan hanya untuk merindukan sang rembulan




Sunday, February 27, 2011 02:40am

Kamis, 10 Februari 2011

Karena Dendam Pada Serigala


Di sebuah desa di kaki Gunung Slamet, hiduplah seorang petani yang sedarhana dengan cucunya. Setiap hari, seusai melaksanakan shalat subuh di surau, sang cucu memberi makan ayam-ayam itu. Terkadang, diantara ayamnya itu, ada yang bertelur. Telur itu disimpanya untuk dijual di pasar.
Pagi itu, seperti biasa, sang cucu pergi ke kandang ayam untuk memberi makan ayam-ayamnya. Namun, dia terkejut melihat kandang itu porak poranda. Tetesan darah tercecer di mana-mana.
Wah, pasti ada binatang buas yang memangsa mereka!” gumamnya.
Lalu, dia menghitung jumlah ayamnya. Tenyata, ayamnya hilang tiga ekor. Dia melaporkan kejadian itu kepada kakeknya. Sang kakek terkejut dan segera melihat-lihat keadaan kandang. Setelah itu, sang kakek mengajak cucunya untuk meneliti kebun di sekitar kandang.
Pada sebuah tanah yang basah, sang kakek menemukan jejak-jejak kaki binatang di sana. Dia langsung menelitinya.
“Ini jejak kaki serigala, Cucuku. Kita harus segera memperbaiki kandang dan lebih berhati-hati!” kata sang kakek.
Sang kakek lalu mengajaknya memotong bambu, untuk memperbaiki kandang. Sang cucu membantunya dengan penuh keikhlasan. Saat melihat kembali darah yang berceceran didalam kandang, dia menangis.
“Mengapa menangis Cucuku?” tanya sang kakek.
“Saya membayangkan betapa ketakutanya ayam-ayam itu tadi malam, Kek. Betapa sakitnya tiga ayam itu dibantai serigala. Mengapa ada binatang sejahat serigala, Kek?” tanya sang cucu sambil terisak-isak.
“Adanya serigala yang rakus dan kejam, itu menjadi ujian dari Tuhan untuk kita. Kita jangan mau diperdayai serigala dan harus menindak serigala itu,” jawab sang kakek.
“Kalau begitu, besok malam saya akan berjaga, saya akan membawa parang dan panah. Jika serigala itu mendekati kandang, akan saya bidik, Kek!”
Sang kakek tersenyum sambil mengelus-elus kepala cucunya.
Setelah selesai memperbaiki kandang, sang kakek berkata, “Cucu, kakek akan ke sawah, melihat padi kita yang sudah menguning. Mingu ini sudah bisa dipanen. Kau sebaiknya pergi ke pasar. Jual lima butir telur dan daun singkong itu. Tukarlah dengan bumbu dan lauk-pauk yang kau inginkan.”
“Baiklah, Kek!”
***
Menjelang maghrib, sang cucu sudah berada di surau. Tepat saat sang surya tenggelam diperaduanya, dia melantunkan azan. Suaranya merdu. Kumandang azan itu menggema sampai di puncak Gunung Arjuna. Alam ikut dalam takbir dan tasbih kepada Allah Azza wa Jalla.
Tidak lama, shalat maghrib berjamah pun ditegakkan. Lalu, surau berdinding papan itu riuh rendah oleh suara anak-anak yang sedang mengeja dan membaca al-Quran. Pak Kiai Wasiun yang membimbing mereka.
Menjelang isya, surau itu tenang. Anak-anak memerhatikan cerita Pak Kiai, tentang kemuliaan akhlak Baginda Nabi Muhammad saw.
Pak Kiai memulai ceritanya, ” Baginda Nabi sangat halus hatinya, sangat pengasih, dan penyayang. Bahkan, terhadap binatang pun, beliau sangat saying. Suatu ketika, dalam perjalanan perang bersama para sahabatnya, Baginda Nabi beristirahat. Diantara sahabat yang turut bersama beliau, ada yang menemukan sarang burung. Di dalam sarang itu ada dua ekor anak burung yang indah. Sementara induknya tidak ada di dalam sarang, seorang sahabat mengambil dua anak burung itu.
Tidak lama kemudian, induk burung itu datang. Melihat kedua anaknya tidak ada, ia sedih dan bercuap-cuap dengan sangat keras. Suara induk burung itu didengar oleh Baginda Nabi. Begitu melihatnya, beliau berkata kepada para sahabatnya, ‘Siapa yang mengambil anak burung ini? Ayo kembalikan! Jangan sisksa burung ini!’
Lalu, sahabat itu pun mengembalikan kedua anak burung itu.
Jadi begitulah, anak-anakku, Baginda Nabi sangat penuh kasih dan rahmat kepada siapa saja!” kata Pak Kiai.
“Kalau begitu, kita tidak boleh membunuh binatang, Pak Kiai? Tetapi, kok kita makan daging kambing pada hari raya? Apa nggak kasihan pada kambing itu?” tanya Aminah polos.
“Kita boleh membunuh binatang yang berbahaya, misalnya dan kalajengking. Cara membunuhnya pun harus baik, jangan dibakar. Pada dasarnya, seluruh alam ini diciptakan untuk keperluan hidup manusia. Maka, manusia harus mensyukuri dan menggunakan nikmat itu dengan baik. Baginda Nabi mengajarkan, kalau menyembelih kambing, atau binatang lain yang dibolehkan agama untuk dimakan, haarus menggunakan pisau yang sangat tajam, agar kambing itu tidak merasakan kesakitan. Jangan pula kita menyembelih kambing di depan kambing yang lain. Jadi, dalam menyembelih pun kita harus melakukanya dengan baik dan penuh belas kasih.”
Setelah itu, azan isya berkumandang. Anak-anak bersiap untuk melakukan shalat. Seteleh shalat isya, mereka pulang ke rumah masing-masing
***
Hari sudah larut malam, sang kakek telah tertidur karena kelelahan bekerja di sawah. Sementara itu, si cucu tetap berjaga di dapur. Dia membuka jendela dapur, lalu duduk di atas dipan sambil memasang anak panah pada busurnya. Pandanganya lurus ke arah pintu kandang ayam. Dia menunggu-nunggu serigala itu. Akan tetapi, yang ditunggu tidak juga muncul. Lama kelamaan, dia tetidur di dapur.
“Katnya jaga, kok tidur?” tanya kakek.
“Aku tertidur Kek, ngantuk sekali sih
“Ya sudahlah, tidak apa-apa. Ayo, cepat pergi ke masjid”
“Baik, Kek!”
Seperti biasa, setelah shalat subuh, dia pergi ke kandang. Dia terkejut karena kandang itu telah rusak kembali. Darah berceceran di sana-sini. Dia menghitung ayamnya, lagi-lagi hilang tiga. Dia sangat sedih dan menyesal, mengapa tadi malam dia tertidur? Lalu, dia melaporkan hal itu kepada kakeknya.
“Tak apa, Cucuku, kau sudah berbuat semampumu. Serigala ini sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Aku akan membuat perangkap untuk menangkapnya!”
Benat, ternyata sang kakek membuat perangkap. Sementara cucunya tetidur, sang kakek tetap bejaga dan tidak memejamkan mata walau sekejap. Hatinya diliputi rasa dendam pada serigala yang memangsa ayam-ayamnya.
Tengah malam, serigala itu datang. Begitu masuk ke dalam perangkapnyadia langsung berteriak, “Huh, sekarang kau tertangkap Maling Busuk!”
Pagi harinya dia memberitahukan kepada cucunya bahwa serigala itu telah tetangkap. Sang cucu gembira mendengarnya. Dia ingin memberi hukuman setimpal pada serigala itu. Dia berpikir, hukuman apa yang tepat untuk serigala itu?
Lalu, dia bertanya kepada kakeknya, “Kek, hukuman apa yang pantas untuknya? Hukuman yang cukup membuatnya jera, tetapi tidak menyakitinya?”
“Serigala yaa… tetap serigala, Cucuku. Kalau hanya dipukul, dia tidak akan jera. Tenanglah, nanti kau akan melihat, hukuman apa yang pantas untuknya dan membuatnya tidak akan kembali ke sini!” jawab kakek itu.
Menjelang siang, sang kakek mengikat semua kaki serigala itu.
“Mau diapakan, Kek?” tanya sang cucu.
“kau diamlah dan tenang. Lihat saja. Biar tahu rasa serigala kurang ajar ini!” jawab sang kakek.
Dia ingin membalas dendam atas kekurang-ajaran serigala ini yang telah memangsa enam ekor ayamnya.
Kakek itu lalu mengambil secarik kain. Kain itu dipilinya kuat-kuat. Lalu, dia ikatkan pada ekor serigala itu. Sang cucu melihatnya dengan keheranan. Setelah kain itu terikat kuat pada ekor serigala, sang kakek mengambil gas dan menyiramkan pada kain itu.
Sang cucu berteriak, “Ja… jangan, Kek!”
Akan tetapi, terlambat. Api telah menyala di ekor serigala itu. Spontan serigala itu melolong kepanasan.
“Rasakan penjahat!” kata kakek itu geram sambil melepas semua ikan kakinya.
Serigala itu lari terbirit-birit dengan ekor terbakar. Ia terus berlari dan tidak tahu cara memadamkan api yang telah membakar ekornya. Serigala itu berlari kesawah dan mencari lumpur atau air. Ternyata, sawah telah kering. Padi telah menguning. Tak ada air di sana. Serigala dengan ekor terbakar itu berlari ke sana ke mari di sawah.
Tidak lama kemudian, terlihat asap membumbung dari sawah.
“Ada kebakaran di sawah!” teriak seorang penduduk kampung.
Orang-orang berlarian ke arah datangnya asap. Di sana, sepetak sawah yang siap panen, telah terbakar. Api merambat dengan cepatnya. Kakek dan cucunya pun berlari ke arah asap itu. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat sawahnya yang siap panen seminggu lagi, kini telah tebakar. Kakek itu menyesal. Dendam yang membara dalam hatinya, telah membakar segalanya.


Dikutip dari buku Ketika Cinta Berbuah Surga – Habiburrahman El Shirazy

Kamis, 23 Desember 2010

| Dia |


Dia…
Siapa dia?
Wajah yang aku kenali
Tapi siapa dia?
Aku tak tahu siapa dia

Dia yang terlalu sulit untuk dibayangkan
Walau hanya sesaat
Walau hanya sekedar melepas dahaga
Walau hanya sekejap mata
Terlalu sulitkah?

Dia…
Aku mengenalinya
Dia yang dulu
Tapi itu dulu
Sekarang…
Siapa dia sekarang?

Ya…
Mungkin sekarang aku tak lagi pantas untuk mengenalinya
Hingga takkan pernah bisa mengenalnya
Dia begitu berbeda
Membuatku merasa tak pantas walau hanya sekedar mengenalnya

Tapi aku hanya ingin mengenalinya
Hanya ingin tahu siapa dia
Mengapa sekarang ia begitu berbeda
Hanya itu…

Senin, 09 Agustus 2010

Khutbah Rasulullah SAW Menyambut Ramadhan

Berikut ini wasiat Baginda Rasulullah saw. pada malam terakhir bulan Sya’ban, dalam khutbah Beliau saat menyambut datangnya bulan Ramadhan:

Wahai manusia!
Sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat dan maghfirah; bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya paling utama. Malam-malamnya paling utama. Jam demi jamnya paling utama. Inilah bulan ketika kalian diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya.
Pada bulan ini nafas-nafas kalian menjadi tasbih, tidur kalian ibadah, amal-amal kalian diterima dan doa-doa kalian diijabah. Bermohonlah kepada Allah, Tuhan kalian, dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Dia membimbing kalian untuk melakukan shaum dan membaca Kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah pada bulan agung ini…
Bersedekahlah kepada kaum fakir dan miskin. Muliakanlah orang tua. Sayangilah yang muda. Sambungkanlah tali persaudaraan. Jagalah lidah. Tahanlah pandangan dari apa yang tidak halal kalian pandang. Peliharalah pendengaran dari apa yang tidak halal kalian dengar…
Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosa. Angkatlah tangan-tangan kalian untuk berdoa pada waktu shalat. Itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah ‘Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih. Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia!
Sesungguhnya diri kalian tergadai karena amal-amal kalian. Karena itu, bebaskanlah dengan istigfar. Punggung-punggung kalian berat karena beban (dosa). Karena itu, ringankanlah dengan memperpanjang sujud.
Ketahuilah! Allah Swt. bersumpah dengan segala kebesaran-Nya, bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan-Nya.

Wahai manusia!
Siapa saja di antara kalian memberi buka kepada orang-orang Mukmin yang berpuasa pada bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu…
Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.

Wahai manusia!
Siapa yang membaguskan akhlaknya pada bulan ini, ia akan berhasil melewati sirâth al-mustaqîm pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) pada bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang menahan kejelekannya pada bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Siapa saja yang memuliakan anak yatim pada bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Siapa saja yang menyambungkan tali silaturahmi pada bulan ini, Allah akan menghubungkannya dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Siapa saja yang memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Siapa saja yang melakukan shalat sunnah pada bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Siapa saja yang melakukan shalat fardhu, baginya pahala seperti melakukan 70 shalat fardhu pada bulan lain. Siapa saja yang memperbanyak shalawat kepadaku padai bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Siapa saja pada bulan ini membaca satu ayat al-Quran, pahalanya sama seperti mengkhatamkan al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia!
Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagi kalian. Karena itu, mintalah kepada Tuhan kalian agar tidak pernah menutupkannya bagi kalian. Sesungguhnya pintu-pintu neraka tertutup. Karena itu, mohonlah kepada Tuhan kalian untuk tidak akan pernah membukakannya bagi kalian. Sesungguhnya setan-setan terbelenggu. Karena itu, mintalah agar mereka tak lagi pernah menguasai kalian…

Wahai manusia!
Sesungguhnya kalian akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyâm pada malam harinya suatu tathawwu’.
Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu amal kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.
Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan dan bulan Allah memberikan rezeki kepada Mukmin di dalamnya.
Siapa saja yang memberikan makanan berbuka kepada seseorang yang berpuasa, yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang…
Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Siapa saja yang meringankan beban dari budak sahaya, niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.
Karena itu, perbanyaklah empat perkara pada bulan Ramadhan: dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhan kalian; dua perkara lagi yang sangat kalian butuhkan. Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampunan kepada-Nya. Dua perkara yang sangat kalian butuhkan ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.
Siapa saja yang memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Nya, dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga. [HR Ibnu Khuzaimah]

Selasa, 03 Agustus 2010

Murattal

بسم الله الرحمن الرحيم

Setelah sekian lama terhenti (walaupun baru 1 entri), akhirnya Q buka kembali blog ini walaupun masih gak tahu apa yang mau diposting...

emm...
Muhammad Taha Al-Junayd. Saya tidak tahu banyak tentang dirinya. Yang kudapatkan darinya hanya keindahan dan kemerduan suara dalam melantunkan ayat-ayat Al Quran.
Silahkan bagi teman-teman yang ingin mendownload Murattalnya. Berikut ini sebagian link download murattal Muhammad Taha Al-Junayd.

Jus Tabaarak

Jus Amma
01 - Athaan
02 - Surah an-Naba
03 - Surah an-Naaziaat
04 - Surah Abasa
05 - Surah at-Takweer
06 - Surah al-Infitaar
07 - Surah al-Mutaffiffeen
08 - Surah Inshiqaaq
09 - Surah al-Burooj
10 - Surah at-Taariq
11 - Surah al-Alaa
12 - Surah al-Ghaashiyah
13 - Surah al-Fajr
14 - Surah al-Balad
15 - Surah ash-Shams
16 - Surah al-Layl
17 - Surah ad-Duhaa
18 - Surah ash-Sharh
19 - Surah at-Teen
20 - Surah al-Alaq
21 - Surah al-Qadr
22 - Surah al-Bayyinah
23 - Surah az-Zalzaalah
24 - Surah al-Aadiyaat
25 - Surah al-Qaariah
26 - Surah at-Takaathur
27 - Surah al-Asr
28 - Surah al-Humazah
29 - Surah al-Feel
30 - Surah Quraysh
31 - Surah al-Maaun
32 - Surah al-Kawthar
33 - Surah al-Kaafirun
34 - Surah an-Nasr
35 - Surah al-Masad
36 - Surah al-Ikhlaas
37 - Surah al-Falaq
38 - Surah an-Naas

Semoga bermanfa'at....

Selasa, 14 April 2009

sastra melayu

INILAH GURINDAM DUABELAS NAMANYA

Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam serta shalawatnya Nabi yang akhirul jaman serta keluarganya dan sahabatnya sekalian adanya. Amma ba’du daripada itu maka tatkala sampailah Hijratun Nabi 1263 Sanah kepada dua puluh tiga hari bulan Rajab hari Selasa mana (…..) telah ta’ali kepada kita yaitu Raja Ali Haji mengarang satu gurindam cara Melayu yaitu yang boleh juga jadi diambil faedah sedikit-sedikit daripada perkataannya itu pada orang yang ada menaruh akal maka adalah banyaknya gurindam itu hanya duabelas pasal di dalamnya.

Syahdan
Adalah beda antara gurindam dengan syair itu aku nyatakan pula bermula arti syair Melayu itu perkataan yang bersajak yang serupa dua berpasang pada akhirnya dan tiada berkehendak pada sempurna perkataan pada satu-satu pasangnya bersalahan dengan gurindam. Adapun arti gurindam itu yaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir pasangannya tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangannya sahaja jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sajak yang kedua itu jadi seperti jawab.

Bermula inilah rupanya syair.

Dengarkan tuan suatu rencana

Mengarang di dalam gundah gulana

Barangkali gurindam kurang kena

Tuan betulkan dengan sempurna

Inilah arti gurindam yang di bawah syatar ini

Persamaan yang indah-indah

Yaitu ilmu yang memberi faedah

Aku hendak bertutur

Akan gurindam yang beratur

Gurindam I

Ini gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang ma'rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang terpedaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia melarat.

Gurindam II

Ini gurindam pasal yang kedua:

Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua temasya.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

Gurindam III

Ini gurindam pasal yang ketiga:

Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.

Gurindam IV

Ini gurindam pasal yang keempat:

Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

Gurindam V

Ini gurindam pasal yang kelima:

Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Gurindam VI

Ini gurindam pasal yang keenam:

Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,

Gurindam VII

Ini Gurindam pasal yang ketujuh:

Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampir duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

Gurindam VIII

Ini gurindam pasal yang kedelapan:

Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

Gurindam IX

Ini gurindam pasal yang kesembilan:

Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

Gurindam X

Ini gurindam pasal yang kesepuluh:

Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

Gurindam XI

Ini gurindam pasal yang kesebelas:

Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hajat.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.

Gurindam XII

Ini gurindam pasal yang kedua belas:


Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,

tanda raja beroleh anayat.
Kasihan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...